KOLOM: Selamat Datang di Rusia, Brasil!

sbobet

Dalam hidup ini, tidak ada hal yang pasti, kecuali kematian dan pajak. Kata-kata itu tertera dalam surat yang diberikan Benjamin Franklin, salah satu bapak bangsa Amerika Serikat, kepada Jean Baptiste-Leroy pada 13 November 1789. Sekitar lima bulan berselang, Franklin menemui salah satu kepastian itu. Dia meninggal dunia pada 17 April 1790 dalam umur 84 tahun.Franklin sebenarnya bukanlah orang pertama yang mengungkapkan hal tersebut. Beberapa literatur menunjukkan, ungkapan serupa pernah ditulis Christopher Bullock dalam “The Cobbler of Preston” pada 1716. Juga Daniel Defoe dalam “The political History of Devil”, satu dekade kemudian.

Dalam perkembangannya, ungkapan tersebut kerap mengalami modifikasi. Ada yang menambahkan hal lain. Salah satunya perubahan. Seperti halnya kematian dan pungutan pajak, perubahan memang tak bisa dihindari dan pasti terjadi. Setiap orang harus menerima dan menjalani perubahan yang datang seiring putaran waktu yang tak kembali ke belakang.Di sepak bola, ungkapan yang dipopulerkan Franklin itu juga bisa ditambahi. Salah satunya, Brasil lolos ke putaran final Piala Dunia. Faktanya, Selecao memang tak pernah absen. Tak ada negara lain yang seperti itu. Jerman pernah dua kali absen pada 1930 dan 1950. Demikian pula Italia pada 1930 dan 1958.
Jadi, bukan sebuah kejutan ketika Rabu (29/03/2017) atau 442 hari sebelum upacara pembukaan, Brasil memastikan diri sebagai tim pertama yang lolos ke putaran final Piala Dunia 2018. Tentu saja selain Rusia yang secara otomatis lolos karena berstatus tuan rumah.Kepastian itu didapatkan lewat kemenangan 3-0 atas Paraguay, sementara Uruguay kalah 1-2 dari Peru dan Argentina dikalahkan Bolivia dua gol tanpa balas. Dari hitung-hitungan poin, koleksi 33 angka yang dimiliki Brasil sebenarnya masih bisa dikejar Argentina yang saat ini berada di posisi kelima dengan 22 poin. Pasalnya, masih ada empat pertandingan tersisa. Secara matematis, Selecao masih butuh poin, namun ada faktor lain yang membuat Neymar cs. sudah dipastikan lolos ke Rusia 2018. Itu adalah pertemuan Uruguay dan Argentina pada putaran berikutnya, Agustus mendatang. Apa pun hasil laga itu akan memastikan Brasil berada di 4-besar yang berarti lolos otomatis ke Rusia 2018.
Andai Argentina menang, Uruguay dengan 23 poin tak akan bisa mengejar perolehan 33 poin Brasil karena hanya tinggal tiga laga yang tersisa. Sebaliknya, bila Uruguay menang, Argentina yang mengalami hal tersebut karena perolehan poin yang terpaku di angka 22. Adapun bila imbang, tambahan satu poin tak akan cukup bagi Tim Tango untuk mengejar Brasil.
Tim Terbaik
Putaran final Piala Dunia tanpa Brasil memang bak sayur tanpa garam. Di Piala Dunia, Selecao bukan sekadar penggembira. Hingga saat ini, koleksi lima gelar yang dimiliki Brasil belum bisa disamai tim mana pun. Jerman dan Italia baru mengoleksi tiga gelar masing-masing. Argentina, sang musuh bebuyutan, malah baru dua kali menjadi kampiun.Brasil juga punya catatan istimewa. Selecao merupakan satu-satunya tim yang juara di empat belahan Bumi. Pada 1958, Brasil juara untuk kali pertama di Benua Eropa. Hingga 2010, mereka tercatat sebagai satu-satunya tim yang juara di luar benua asalnya. Pada 1962, Brasil juara di kandang sendiri, Amerika Selatan. Delapan tahun kemudian, mereka juar di belahan Amerika Utara. Adapun pada 2002, gelar juara diraih Brasil di Benua Asia.Tak hanya itu, sejumlah rekor pun dipegang penggawa Brasil. Sebut saja Pele yang hingga kini menjadi juara termuda, pencetak gol termuda di putaran final, pencetak gol termuda di final, dan kolektor gelar terbanyak. Tiga kali “Perola Negra” membawa Selecao juara pada 1958, 1962, dan 1970.Selain Pele, tengok juga Cafu. Dialah satu-satunya pemain yang berlaga di tiga final Piala Dunia. Secara beruntun pula. Bek kanan legendaris itu tampil di partai puncak Piala Dunia 1994, 1998, dan 2002. Di Korea Selatan/Jepang 2002, Cafu malah berstatus kapten Selecao.
Jangan lupakan pula sosok Mario Zagallo. Dialah orang pertama yang juara Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Sebagai pemain, dia bagian Selecao saat juara pada 1958 dan 1962. Delapan tahun kemudian, dialah pelatih saat Brasil merebut gelar ketiga. Lalu, pada 1994, Zagallo merupakan asisten pelatih Carlos Alberto Parreira.Brasil juga tim yang paling sering menempatkan pemainnya di puncak daftar pencetak gol terbanyak. Tercatat lima penggawa Selecao yang pernah menyabet gelar pemain tersubur. Mereka adalah Leonidas pada 1938, Ademir (1950), Garrincha dan Vava (1962), serta Ronaldo (2002). Jerman sebagai pesaing terdekat hanya punya tiga pemain.Untuk tahun depan, kelolosan Brasil membuat Piala Dunia hampir pasti diikuti salah satu bintang utamanya, Neymar. Saat ini, selain Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, Neymar adalah pesona utama di pentas sepak bola. Di Rusia nanti, pemain berumur 25 tahun tersebut pastilah menjadi kandidat utama pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.
Berkat Tite
Langkah Brasil sebetulnya tidaklah mulus. Neymar dkk. sempat tercecer di posisi ke-6 saat Pra-Piala Dunia Zona Conmebol menyelesaikan enam putaran. Mereka hanya mengoleksi sembilan poin dari dua kali menang, tiga kali imbang, dan sekali tumbang. Brasil tertinggal empat angka dari pemuncak klasemen kala itu.Peruntungan berubah ketika Adenor Leonardo Bacchi “Tite” mengambil alih tim dari Carlos Dunga pada 16 Juni 2016. Di tangannya, Selecao kembali menjadi monster menakutkan. Dalam sembilan laga -delapan di Pra-Piala Dunia- di bawah arahan Tite, mereka selalu meraup kemenangan. Tak hanya tajam, Brasil juga sukar dibobol lawan. Statistik 25 gol memasukkan dan hanya dua kali kemasukan adalah faktanya.Neymar menyebut Tite telah mengembalikan Selecao ke jalan yang sebenarnya, the Brazilian way. Menurut dia, Tite telah menuntun mereka ke jalan yang benar, memberikan struktur yang jelas dalam permainan, dan membuat semua pemain mengeluarkan segenap kemampuan.”Kalian bisa lihat bagaimana penampilan setiap pemain. Semua orang bekerja keras dalam setiap latihan, dalam setiap pertandingan,” kata bek kiri Marcelo. “Kami bersyukur Profesor Tite datang. Dia mengubah hampir segalanya.”
Hal yang paling mencolok tentu saja kolektivitas yang terbangun sangat baik. Dengan membuat seluruh pemain mengeluarkan segenap kemampuan, Tite melenyapkan ketergantungan terhadap Neymar yang begitu kental sebelum kedatangannya. Saat Brasil menghajar Uruguay 4-1, justru gelandang Paulinho yang mencetak hat-trick. Di bawah Tite, eks penggawa Tottenham Hotspur tersebut kini telah mengemas empat gol. Padahal, sejak 2014, dia tak pernah lagi menjebol jala gawang lawan.Menyangkut permainan, Philippe Coutinho mengungkapkan, “Kami berusaha menciptakan ruang, bermain, dan bergerak sesuai instruksi Tite. Kami bermain secara kolektif. Kalian lihat gol terakhir (melawan Paraguay). Semua pemain terlibat dalam prosesnya.”Brasil saat ini memang tak seperti di Piala Dunia 1970 dan 2002 yang dihuni begitu banyak bintang besar. Paulinho dan Renato Augusto malah berasal dari liga antah-berantah, Chinese Super League (CSL). Namun, dengan kolektivitas dan sentuhan emas Tite, seperti biasa, Brasil akan jadi unggulan utama di Rusia nanti. Ah, lagi-lagi ini sebuah kepastian.*Penulis adalah pengamat sepak bola dan komentator.Tanggapi kolom ini @seppginz.

coachbagoutlets.org sbobet Sumber: Liputan6